Mengenang KH Zainal Mustafa, Ulama Pejuang dari Tasikmalaya

0
158

Modusinvestigasi.com | Kabupaten:Tasikmalaya | Wawan Hendrayana

Pada 25 Februari 1944 (1 Rabi’ul Awwal 1365 H) atau 75 tahun lalu, Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya menjadi saksi gugurnya 86 syuhada yang dipimpin KH Zainal Mustafa. Ketika itu Zainal Mustafa bersama para santrinya itu berperang melawan kebatilan penjajahan Jepang.

 Atas perjuangannya itu, KH Zainal Mustafa dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden Nomor: 064/TK Tahun 1972 Tanggal 20 November 1972.Sebagai upaya untuk melanjutkan dan mempertahankan perjuangan KH Zainal Mustafa, generasi masa kini bisa melakukannya dengan cara berjuang menjadi manusia terbaik, serta memberikan manfaat banyak untuk masyarakat. Hal itu dikatakan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil saat menghadiri acara Peringatan Perjuangan Pahlawan Nasional KH Zainal Mustafa ke-75 dan Tasyakur Hari Jadi Pesantren Sukamanah ke-92 di Pondok Pesantren KH Zainal Mustafa Sukamanah, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, Senin 25 Februari 2019.

“Oleh karena itu, perjuangan KH Zainal Mustafa sampai kapan pun harus kita pertahankan, sampai kapan pun harus kita lanjutkan perjuangannya. Dengan cara kita menjadi manusia terbaik di zaman ini dengan memberikan kebermanfaatan,” kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Emil melanjutkan, hidup bukanlah soal urusan menang atau kalah. Hidup itu adalah semangat memperjuangkan keyakinan tentang sebuah kebenaran. “Kalau Almarhum Musyahid KH Zainal Mustafa hanya menghitung untung rugi tidak akan melakukan apa yang diputuskan saat itu,” ujar Emil.

KH Zainal Mustafa lahir di Kampung Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya pada 1 Januari 1899. Ia adalah pejuang pertama Islam asal Jawa Barat dengan nama kecil Hudaemi.

Di usianya yang masih muda yakni 26 tahun, Zainal Mustafa muda telah mendirikan Pondok Pesantren Sukamanah yang masih berdiri hingga saat ini.Bagi Bupati Tasikmalaya, Ade Sugianto, KH Zainal Mustafa tidak sekadar ulama. Namun juga manusia cerdas dan penuh dengan keberanian.

Melalui semangat perjuangan Hudaemi, Ade berharap bisa diaktualisasikan dalam kehidupan saat ini.”Saya percaya bahwa KH Zainal Mustafa bukan hanya ulama, tapi manusia cerdas dan penuh dengan keberanian,” tutur Ade yang turut hadir dalam acara peringatan perjuangan KH Zainal Mustafa.

“Beliau berani menegakkan kebenaran dan perlawanan kepada tentara Jepang saat itu,” sambungnya.Ade menambahkan bahwa peringatan perjuangan KH Zainal Mustafa ini memiliki makna tidak hanya bersyukur kepada Allah SWT. Namun, menjadi kewajiban kita untuk berterimakasih kepada para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa ini.pungkasnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here