Masyarakat Miskin Desa Reko Butuh Perhatian

0
38

Modusinvestigasi.com, NTT – Sistem ekonomi pasar bebas tanpa kendali ini, telah dipaksakan penyelenggara negara-negara industri kepada negara-negara miskin agar membuka sumber daya alam dan ekonomi untuk di eksploitasi secara tidak adil.

Celakanya, sumber daya alam yang seharusnya di kelola Negara untuk kemaslahatan seluruh rakyat, ternyata tidak sesuai aspirasi dan tidak menguntungkan masyarakat miskin yang mempunyai aneka kesulitan dan keterbatasan.

Sejak lama sistem ekonomi kerakyatan seperti yang tercantum dalam pasal 33 UUD 1945, telah diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahaya neoliberalistik yang sifatnya merampok dan merampas hak azasi masyarakat miskin masih terus menggurita di sekitar kita.

Berdasarkan hasil pantauan Modusinvestigasi.com, belum lama ini di Rego,  jalan-jalan desa seperti jalan kerbau, tak terawat, tampak tiang-tiang listrik kusam dengan bentangan kabel hitam kendor di depan rumah-rumah warga yang mati suri karena hak azasinya di renggut segelintir elit gereja lokal.

Desa Rego merupakan bagian dari Kecamatan Macang Pacar, yang terletak di bagian timur Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Desa Rego, berada pada jalur jalan raya Propinsi NTT yang amat buruk, sepanjang 100 km, di tempuh selama 8 jam dengan bis kayu, jurusan Labuan Bajo – Boleng –Pacar – Rego – Reo, Kabupaten Manggarai, jarak 64 km dari Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, jarak 38 km dari Depot Pertamina di Pelabuhan Peti Kemas Kedindi Reo Kabupaten Manggarai.

Desa Rego yang di kenal sebagai desa miskin terisolir ini, merupakan wilayah pegunungan beriklim sedang, memiliki areal pertanian lahan kering seluas 90 Ha, areal sawah seluas 253,5 Ha, areal hutan negara dan hutan lindung seluas 99 Ha, cocok untuk budidaya kayu jati putih, mahoni dan sureng, demi kebutuhan pembangunan jangka panjang, selain itu, tanah-tanah di Desa Rego, dapat ditanami kopi, kemiri, cengkeh, coklat, vanili, pinang, dan bisa menghasilkan jagung, ubi-ubian, kacang dan merica.

Penduduk Desa Rego berjumlah 2209 jiwa serta 400 Kepala Keluarga, 99% masyarakatnya miskin dan hidup dari hasil pertanian yang amat memprihatinkan, sehingga banyak dari mereka menerima subsidi pemerintah berupa BLT, PKH maupun Bansos.

Rencana pembangunan PLTMH menuai keraguan sejumlah warga Rego karena air di Desa Rego, yang tersebar di 20 titik sumber mata air, volume airnya sangat kecil.

Alasan lain yang masuk akal, Desa Rego yang berada di jalur jalan raya propinsi NTT, tidak di lintasi sungai besar yang dapat menghidupkan mesin turbin, bahkan hingga tahun 2017, wilayah Wajur Kabupaten Manggarai, sejauh 20 km dari Rego, sudah ada listrik PLN, demikian pula dari arah Reo Kabupaten Manggarai, sudah ada listrik PLN di Kajong, sejauh 10 km dari Rego.

Promosi  Romo Marsel dan pak Budi, di hadapan masyarakat setempat, bahwa : “PLTMH merupakan teknologi inovasi baru, dan volume air terjun Cunca Bahan yang di aliri Wae Leming, bisa menggerakkan dan menghidupkan turbin serta layak di bangun PLTMH”, diyakini warga Desa Rego, karena Romo Marsel Hasan, Pr., adalah seorang imam Katolik, Gembala Umat, yang ditugaskan sebagai Koordinator Umum Program PLTMH dan SARC Keuskupan Ruteng, meskipun fakta menunjukkan, masih banyak Proyek gagal PLTMH   yang di kelola Keuskupan Ruteng di wilayah lain.

Menurut Romo Marsel dan pak Budi saat itu, Rego layak untuk di bangun PLTMH, air yang di pilih adalah Wae Leming, kekuatan Wae Leming yang kecil itu bisa hasilkan listrik untuk 170 Rumah dengan jarak dari sumber listrik ( rumah Turbin PLTMH) 5 km ke arah selatan dari desa rego di Lelok, dan 2 km ke utara Rego di Pogol, meskipun faktanya,Rego tidak memiliki sungai besar. pada musim kemarau, volume air Leming Cunca Bahan, hanya merupakan air sisa pembuangan dari air sawah yang luasnya 2 ha.

Di lokasi proyek Leming, 3 km dari Kampung Rego, tampak Rumah mesin turbin berdinding aluminium biru dan saluran air mirip leher angsa, sepanjang 115 m dari Bronkaaptering( Bendungan utama) menuju Reservoir ( Bak utama) yang telah di kerjakan dengan cucuran keringat dan air mata duka 154 masyarakat tani miskin selama 108 hari berturut-turut, dengan upah kerja yang belum pernah di bayar.

Lebih tragis lagi, 1/4 Ha kebun kopi warga, di gusur tanpa ganti rugi sesuai aturan yang berlaku, 150 m3 batu dengan harga Rp. 300.000,- per 1 kubikasi, 1 pohon cengkeh rindang, 5 pohon kemiri di tebang sepanjang saluran air, 65 pohon setinggi 5 m untuk tiang listrik,

Utang 10 juta material non lokal dari pengusaha lokal di luar RAB, semuanya belum di bayar Romo Marselus Hasan, Pr.

Pada tahun 2018, masyarakat yang sudah tidak berdaya, masih berusaha memperluas dan memperbaiki Reservoir dengan sewa alat eksa Rp. 8.000.000,- dan di bayar tunai oleh 160 warga. Total swadaya masyarakat tani miskin Rp. 831 ribu.

Sesuai informasi warga korban, di lokasi PLTMH, mengatakan : “Listrik PLTMH hanya nyala selama 2 bulan, terhitung dari januari – pebruari 2018, kini mesin turbin macet total karena kurang air dan tidak bisa diperbaiki lagi, setelah berulang kali diperbaiki tenaga teknik yang di bayar masyarakat”, pungkasnya.

Beberapa warga yang rumahnya terletak 150 m dari bendungan PLTMH mengungkapkan.

“Untuk hidup mesin selama 2 jam, air Leming ini, harus di tampung selama 48 jam”, tegas warga.

Luka batin dan kekecewaan warga tani miskin, tampak dari sikap dan tutur kata mereka yang amat tragis. Sejak tahun 2019, setiap tanggal 15 dalam bulan, mereka di datangi petugas bank NTT Cabang Ruteng,  untuk tagih utang.

Masyarakat tani miskin di paksa untuk penuhi kewajibannya, sedangkan HAK lahir batin mereka belum pernah terpenuhi. Bukankah  upah mereka sudah melampaui jumlah kredit macet di Bank NTT?

Ketua Lembaga Forum Diskusi Cendekiawan Asal Manggarai Maumere(FORDICAMM), Pater Doktor Alexander Jebadu,SVD yang dihubungi media ini dari Ruteng, via telepon seluler, menegaskan : ” Lembaga Fordicamm, di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero-Maumere-Flores, telah memohon Bantuan Dana untuk Talang Kredit Macet pada Bank NTT Cabang Ruteng, senilai Rp. 524.700.000,- dan Kompensasi kerugian 160 masyarakat miskin Desa Rego senilai Rp. 1.416.490.000.,- kepada Bapak Presiden Jokowi melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Bapak Gubernur Propinsi NTT.

Hingga berita ini di publikasikan, wartawan Koran Modus Investigasi dan modus investigasi.com belum bisa konfirmasi Kepala Bank NTT Cabang Ruteng dan Romo Marselus Hasan, Pr karena kendala teknis.