Pemkab Pangandaran Akan Lebih Khusus Perhatikan Kaum Dhuafa Dan Anak Yatim

0
38

Modusinvestigasi.com | PANGANDARAN

Reporter : Budi Setiawan

 Bupati Jeje Wiradinata mengakui perhatian terhadap kaum dhuafa dan anak yatim masih kurang.
Jeje mengatakan, pembangunan selama 4 tahun lebih ini, fokus pada urusan makro. Seperti pendidikan gratis, biaya berobat gratis, infrastruktur dan penataan kawasan.
Pemkab Pangandaran Mendapat DID Tambahan Rp 14,9 miliarHadapi KBM Tatap Muka, Pemkab Pangandaran Siapkan 81 Ribu Faceshield Untuk PelajarDampak Corona, Realisasi PAD Pangandaran Anjlok
Sehingga urusan-urusan mikro termasuk perhatian terhadap kaum dhuafa dan anak yatim masih kurang.
Hal tersebut disampaikan dalam acara doa bersama dhuafa dan anak yatim yang digelar di gedung Islamic Center Pangandaran, Senin pekanlalu.
Bupati Jeje Wiradinata hadir bersama istri Ida Nurlaela serta putra keduanya dan menyerahkan santunan kepada kaum dhuafa dan anak yatim.
Jeje mengatakan, acara ini dilaksanakan secara spontan, mengingat keberadaan kaum dhuafa dan anak yatim-piatu di Pangandaran sangat penting untuk mendapatkan perhatian.
“Saya baru ingat, yayasan yang mengurusi anak-anak yatim-piatu belum tersentuh secara khusus. Kita akan bantu kebutuhan sekolah seperti tas, sepatu, buku dan seragamnya. Sekaligus membantu untuk kebutuhan makannya sehari-harinya,” ujarnya.
Jeje juga mengatakan, saat menjelang akhir masa kampanye nanti akan mendata seluruh anak yatim dan yatim piatu di Kabupaten Pangandaran.
“Kalau anak yatim-piatu disatukan kita bisa bantu kebutuhan hidup sehari-hari, seperti makannya. Saya kira anggarannya nggak besar,” ujarnya.
Jeje mengatakan, suatu saat dirinya akan mengajak liburan para anak yatim-piatu. Tidak usah jauh-jauh, kata Jeje liburannya ke pantai Batukaras atau pantai lainnya, agar bisa bermain bersama di sana, supaya mereka bergembira.
“Saya saja yang sudah tua, ditinggalin bapak sama ibu terasa betul sedihnya, apalagi mereka masih anak-anak, yang masih membutuhkan kasih sayang. Saya rasa kini saatnya pemerintah daerah hadir ditengah-tengah anak yatim piatu,” kata Jeje.
Dalam kesempatan itu, Jeje juga mengenang masa lalunya, dirinya dilahirkan dari keluarga sederhana.
“Bapak saya merupakan seorang nelayan yang tidak tamat sekolah dan ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga,” ujar Jeje.
Maka kata Jeje, pendidikan menjadi hal yang penting terutama bagi para anak yatim-piatu agar bisa melanjutkan sekolah setinggi-tingginya untuk menggapai cita-cita yang diinginkannya.
“Sengaja membawa anak saya ke acara ini, supaya tahu dan merasakan bagaimana rasanya kalau ditinggal oleh kedua orangtuanya. Supaya menjadi anak yang pintar dan berbakti kepada kedua orangtua,” ujarnya.***