Penyandang Disabilitas Yang Terpinggirkan

0
88

Modusinvestigasi.com | NTT

Reporter : Titus Untung,S.S.

Bruno Fransiskus Jehadu merupakan anak ke-2 dari pasangan Bapak Lasarus Unggas dan Ibu Sabina Lihung. Pria kelahiran 6 Oktober 1992,yang lazim di sapa INO ini,adalah Penyandang Disabilitas dari keluarga tidak mampu yang berasal dari Kampung Poco di Desa Poco, Kecamatan Wae Ri’i Kabupaten Manggarai, ujung barat pulau Flores.

INO,yang berpakaian putih lusuh dengan celana colour biru kumal,terlihat girang dan ramah tatkala menyambut awak media ini yang datang tiba-tiba menyambangi rumahnya minggu lalu. Dengan gerakan-gerakan isyarat tanpa kata dan senyumnya yang khas, INO memanggil ibunya untuk berpose bersama.

INO merupakan potret masyarakat kaum marginal Penyandang Disabilitas yang sering terpinggirkan “terpinggirkan” karena tekanan ekonomi,sosial,budaya dan politik,termasuk kebijakan dan program pemerintah yang kadang kala terkesan “tidak berpihak” kepada Penyandang Disabilitas,sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016.

Sabina Lihung,dalam penuturannya kepada crew Modus Investigasi, belum lama ini,mengatakan : “Sekak berusia 2 tahun, INO,anaknya,tidak mampu berdiri dan duduk,bahkan tidak mampu berbicara. Melihat kondisi seperti ini,pada tahun 1998,Bapak Lasarus Unggas,berusaha sekuat tenaga dengan kemampuan yang amat terbatas, mendaftarkan anaknya, INO, di SLB Karya Murni Ruteng. Namun 6 bulan kemudian, INO terpaksa berhenti sekolah akibat ketiadaan biaya dan gangguan pendengaran”, papar Lihung.

Di sela-sela wawancara berlangaung, Bapak Lasarus Unggas, menambahkan : “Pada saat INO berumur 8 tahun,dia pernah tergelincir di celah-celah bebatuan dan jatuh,sehingga kepala dan kakinya benjol karena benturan keras”,tandas Unggas.

Berdasarkan pantauan langsung Koran Modus Investigasi,belum lama ini, rumah kediaman INO,belum memenuhi standar sanitasi dan kesehatan yang memadai. Di sana sini tampak jendela tertutup plastik dan pintu darurat,tanpa MCK dan Got pembuangan air limbah.***