Semarang Dikepung Banjir, Aktifitas Lumpuh Total

0
41

Modusinvestigasi.com, Semarang – Tingginya Curah hujan lebat dan angin kencang serta sambaran kilat petir yang menggetarkan jantung hati dan memekakkan telinga banyak orang yang ada di Semarang merasa resah, Peristiwa terjadi selasa sore 23 pebruari 2021jam 14.30 WIB sampai dengan pukul 17.30 WIB  yang mengakibatkan arus lalulintas mengalami kemacetan dan jalan-jalan protokol di Semarang dan kampung-kampung penduduk banyak juga rumah warga yang kedatangan air bah.

Hanya dalam tempo tiga setengah jam air bah itu sudah melanda  di beberapa kawasan kota semarang  pantauan  media  di lapangan yang tergenang air akibat hujan antaralain Pasar Waru,  Jl. Gajah, Medoho, Kota lama, depan RS. Kariadi, Simpang lima, DP.Mall, depan Paragon Tugumuda,  MH.Tamrin, Pandanaran,  Bubakan,  Ahmad yani, Jembatan tol kaligawe, Trimulyo dan daerah sekitarnya.

Sampai saat ini arus jalan lalulintas macet dan beberapa jalan protokol di semarang tergenang air sampai satu lutut orang dewasa bahkan ada sampai setinggi jok kendaraan roda dua. Khususnya pengendara roda dua yang mau melintasi daerah banjir merasa was-was dalam mengambil keputusan untuk menerjang banjir atau menunggu volume air turun, sehingga banyak sepeda motor  macet dan pengendara resah, hanya kendaraan-kendaraan besar sepert truk dan bus yang melintas di sekitar Jembatan Tol Kaligawe dan Trimulyo,Genuk yang berani menerjang banjir tentunya dengan ekstra hati -hati dan disertai doa  berhasil melewatinya.

Budi Prasetyo salah satu pengendara sepeda motor warga Perumahan Pondok Raden Patah perbatasan antara Semarang-Demak sedang melintas di Jembatan Tol Kaligawe yang nekat menerjang banjir akhirnya didorong, ketika kita tanya Budi Prasetyo menjelaskan, nekat menerjang banjir karena rasa khuatir anak bayinya di rumah.

Budi Prasetyo juga mengharap khususnya kepada Pemeritah Daerah yang didukung oleh masyarakatnya untuk mencari solusi dan mengantisipasi banjir seperti ini di hari-hari mendatang tidak terjadi lagi Semarang menjadi lautan banjir, walaupun sudah dikenal “Semarang Kaline banjir” Pungkas Budi PraSetyo.

(Mujiono)