Wartawan Profesional VS Wartawan Abal-Abal

0
366

Oleh : Veronica 

Kita mengenal dua jenis wartawan, yaitu wartawan profesional dan wartawan gadungan atau wartawan abal-abal.

Wartawan gadungan, wartawan abal-abal, wartawan amplop, wartawan bodrex, atau wartawan proyek sejatinya bukan wartawa, melainkan pengemis dan/atau preman berkedok wartawan.

Wartawan itu sebuah profesi. Karenanya, wartawan harus bertindak profesional dalam melaksanakan tugasnya, terutama menaati kode etik jurnalistik.

Wartawan adalah profesi, karena setidaknya memenuhi dua unsur profesi, yakni:

   – Pekerjaannya didedikasikan untuk masyarakat umum.

   – Dinaungi oleh sebuah organisasi profesi.

Karenanya, seorang wartawan adalah seorang yang profesional di bidangnya, karena terdapatnya asosiasi wartawan seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan masih banyak asosiasi wartawan lainnya.

Mengacu pada Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers, wartawan profesional adalah wartawan yang mengerjakan pekerjaannya sesuai dengan peraturan perundang-undnagan yang berlaku.

Menurut Budiman Hartoyo (1999) yang dimaksud dengan wartawan profesional adalah yang memahami tugasnya, yang memiliki skill (keterampilan), seperti melakukan reportase, wawancara, dan menulis berita atau feature yang bagus dan akurat, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dengan demikian, wartawan profesional dapat disimpulkan sebagai sorang yang memahami tugasnya, memiliki keterampilan untuk melakukan reportase dan mengolah karya-karya jurnalistik sesuai dengan nilai yang berlaku, memiliki independensi dari objek liputan dan kekuasaan, memiliki hati nurani serta memegang teguh kode etik jurnalistik yang diatur oleh organisasi profesi yang diikutinya.

Kode etik jurnalistik menyebutkan, wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik”.

Cara-cara yang profesional wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya antara lain:

  1. Menunjukkan identitas diri kepada narasumber.
  2. Menghormati hak privasi.
  3. Tidak menyuap dan tidak menerima suap
  4. Menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya

pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi keterangan sumber dan ditampilkan berimbang.

  1. Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.
  2. Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri.
  3. Penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Penyimpangan Profesi Wartawan

Ada mitos atau mungkin realitas yang menyebutkan bahwa wartawan adalah “manusia sakti”, untouchable (tidak tersentuh), serta aksesible (bebas akses). Ia bisa mengurus apa saja dengan mudah dan lancar, serta mampu menembus rumitnya birokrasi dengan kartu pers (press card) sebagai kartu identitasnya.

Di sebagian kasus, kenyataan tersebut memang merupakan sebuah realitas, dan dapat dibuktikan secara empiris. Seorang wartawan, dapat “semau gue” saat menjalankan aktivitasnya. Bahkan, jika berhadapan dengan protokoler birokrasi, ia pun bisa dengan leluasa “slonong boy”. Patut dicatat, tidak ada seorang pun yang berani melarangnya.

Karenanya, segala “kemudahan” yang ada pada diri wartawan tersebut banyak disalahgunakan oleh sejumlah oknum masyarakat yang secara tibatiba menjelma menjadi wartawan, lengkap dengan atributnya, semisal kartu pers, kamera, blocknote, tape recorder, dan tidak ketinggalan rompi yang bertuliskan “PERS” di punggungnya.

Pasca pemerintahan Orde Baru lengser, yang ditandai sebagai babak baru kebebasan pers, maka banyak organisasi wartawan serta surat kabar yang bermunculan bak jamur di musim penghujan.

Namun sayangnya, hegemoni kebebasan pers tidak diiringi oleh profesionalitas atas profesi.

Menjadi Wartawan yang Baik

Seorang wartawan dapat dikatakan baik apabila ia bekerja dengan segenap hati nurani (Coblentz, 1961).

Seorang wartawan yang berhati nurani harus memenuhi pikiran-pikirannya mengenai kebenaran dan keadilan, dan harus menyesuaikan diri pada nilai-nilai tinggi yang telah dibina publik untuk dirinya (William Randolph Hearst, 1961).

Duanne Bradley (1996) mengatakan bahwa wartawan yang baik harus memiliki sejumlah aset dan modal, di antaranya, pengetahuan, rasa ingin tahu (sense of knowing), daya tenaga hidup (vitalitas), nalar berdebat, kemampuan brainstorming (bertukar pikiran), keberanian, kejujuran serta keterampilan berbahasa, baik lisan apalagi tulisan.

Sementara John Hohenberg (1977) mengemukakan sedikitnya ada 4 (empat) syarat untuk menjadi seorang wartawan yang baik, antara lain:

Tidak pernah berhenti mencari kebenaran

Maju terus menghadapi jaman yang berubah dan jangan menunggu sampai dikuasai olehnya.

Melaksanakan tugas-tugas yang berarti ada konsekuensinya bagi umat manusia.

Memelihara suatu kebebasan yang tetap teguh.

sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang wartawan yang baik adalah

1. Dia harus punya ”mata” yang tajam dan ”telinga” yang peka;

2. Dia harus bisa berbicara langsung ke pokok permasalahan serta bisa melihat dan memahami latar belakang dari apa yang dilihatnya;

  1. Dia juga harus mampu menulis sebuah cerita sebagai sebuah realitas atau kenyataan yang saling berhubungan dan bukan kejadian yang terpisah-pisah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here