Modusinvestigasi.Online, Bogor –
Subadrah dianggap “Virus”
Selama mendalami data untuk mengungkap warga yang tak memperoleh bansos, Subadrah dirundung masalah besar. Aparatur Desa diam-diam mengintai kegiatannya. Subadrah pernah mengunggah bantuan sembako berlogo bantuan presiden yang masuk ke dalam Desa Galuga di akun Facebook miliknya. Dia menilai hal tersebut ganjil karena bantuan itu nyatanya hanya diperuntukkan bagi warga DKI Jakarta dan sedikit wilayah luar yang berbatasan langsung dengan ibu kota.
“Banyak warga yang enggak dapat Bansos yang jadi hak mereka, tapi kok tiba-tiba ada sembako yang harusnya milik warga daerah lain. Saya minta penjelasan tapi enggak digubris, akhirnya saya posting di Facebook,” kisah Subadrah.
Akibat unggahannya tersebut, Pemerintah Desa Galuga menyebut Subadrah telah memprovokasi warga. Kepala Desa Galuga Endang Sudjana kemudian melayangkan surat panggilan untuk meminta klarifikasi Subadrah atas unggahannya di media sosial. Tercatat ada dua panggilan terhadap Subadrah. Dalam surat yang dilihat Law-Justice, panggilan pertama dilakukan untuk meminta klarifikasi Subadrah terhadap kegiatannya mensosialisasikan Bansos dan mengumpulkan data warga yang tidak menerima bantuan tersebut.
Namun, Subadrah tidak bersedia datang karena tempat media dilakukan di Kantor Polsek Cibungbulang. Dia mempertanyakan mengapa untuk urusan sosialisasi Bansos harus dilakukan pertemuan di kantor polisi.
“Kalau caranya begitu seolah-olah saya jadi pihak yang bersalah menurut mereka,” ujar Subadrah.
Adapun panggilan kedua dilakukan di Kantor Desa Galuga. Subadrah memenuhi panggilan untuk memberikan penjelasan mengenai kegiatannya.
Selepas proses panggil-memanggil, Subadrah mulai merasakan ada intimidasi terhadap dirinya. Selain Aparatur Desa, banyak pihak lain yang jengkel. Umumnya mereka tidak suka dengan tuntutan Subadrah yang menginginkan keterbukaan informasi perihal Bansos.
“Banyak yang enggak suka. Pemdes menuduh saya sebagai virus. Kata mereka, `sekarang bukan cuma virus Borona yang menggangu, tapi ada lagi namanya virus Subadrah,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Karena terus mendapat tekanan, Subadrah akhirnya pindah ke tempat usaha suaminya di Desa Babakan Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng. Aktivitasnya tak berhenti, sehingga bisikan oknum-oknum Desa Galuga sampai ke Desa Babakan Sadeng. Simpatisan desa Galuga sempat mendatangi rumahnya di Babakan Sadeng dan memukul pintu rumahnya hingga rusak. Subadrah mengaku tidak kapok dengan aktivitasnya tersebut.
“Ini baru Kabupaten Bogor, saya niatnya mau bongkar-bongkar juga daerah lain. Di Kalimantan saya juga nemuin hal yang sama kayak di sini,” katanya. (Veronica)
(Continue part 4)